Arsip Tag: Disabilitas

Aksinyata FDTB dan KRG untuk Menggurangi Sulitnya Mencari Air

15 Agustus 2021

Kekeringan Di Gunungkidul

Kekeringan adalah salah satu Permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat Kabupaten Gunungkidul  setiap musim kemarau . hal ini  disebabkan oleh sumber air yang ada di daerah mengering sehingga tidak dapat dimanfaatkan lagi . kondisi ini juga ditambah dengan pohon – pohon penyimpan air di sumber – sumber mata air atau resan banyak yang sudah mati karena termakan usia.

Melihat kondisi seperti ini menarik kepedulian sejumlah orang yang tergabung dalam komunitas Resan Gunungkidul (KRG) dan Forum Disabilitas Tangguh Bencana (FDTB)  untuk ikut andil dalam perbaikan ketersediaan air dalam jangka Panjang. Sehingga permasalahan kesulitan air yang dialami oleh masyarakat gunungkidul saat musim kemarau bisa diatasi.

Aksi Nyata

Dari rasa kepedulian tersebut terjalinlah kerjasama Forum Disabilitas Tangguh Bencana (FDTB) dengan Komunitas Resan Gunungkidul (KRG) yang bermula pada tahun 2020  yang lalu dengan kegiatan penanaman pohon beringin, gayam, klumpit, elo, munggur dan pohon- pohon besar lainnya di lokasi 9 titik resan di kecamatan Nglipar & Karangmojo. Manfaat dari kegiatan ini adalah agar sumber air tetap terjaga kelestariannya mengingat Gunungkidul adalah daerah rawan bencana kekeringan. Inilah aksi nyata FDTB untuk Gunungkidul dan sebagai salah satu Gerakan atau angkah pengurangan resiko bencana FPRB tutur hardiyo

Dukungan Masyarakat

Masyarakat sangat mendukung adanya reboisasi karena kegiatan ini terlaksana atas dasar niat hati  bukan karena materi,  untuk memelihara sumber air dan tanah  agar Gunungkidul lebih hijau lagi. Bisa juga sebagai ajang silaturahmi, menciptakan lokasi baru wisata budaya Jawa & memelihara tradisi masyarakat. Kami berpesan agar  masyarakat merawat sumber air atau resan yang ada disekitarnya agar ketersedian air dapat terjaga

Hambatan Disabilitas Untuk Bisa Tangguh Dalam Menghadapi Bencana

selasa 10 Agustus 2021

Pengetahuan Kebencanaan Untuk Disabilitas Terganjal  Infrastruktur  Yang  belum Aksesesibel

Puji Lestari sudah hafal langkah-langkah menyelamatkan Putri anaknya disabilitas Celebal palsy yang berusia 17 tahun seandainya bencana datang sewaktu-waktu.

“Kalau gempa, saya harus mendekati Putri supaya tenang terlebih dahulu. Putri memang mudah panik. Saya akan meletakkan bantal pada kaki, perut hingga kepala sehingga melindungi dia dari reruntuhan tembok atau atap rumah,” kata Puji.

Bila gempa berhenti, Puji akan mengangkat Putri ke kursi roda untuk dibawa keluar rumah untuk antisipasi gempa susulan.

Bagaimana kalau bencananya berupa banjir?

Puji juga punya strategi rupanya.

“Kalau akan banjir saya akan menyiapkan pakaian, pampers, roti, biskuit dan obat-obatan. Putri akan saya siapkan di kursi roda atau motor yang sudah dimodifikasi untuk keperluan Putri mobilisasi…” ujar Puji.

Sementara kalau bencana yang datang adalah angin ribut, maka Puji akan menutup pintu dan jendela rumahnya, mengangkat Putri ke kursi roda dan semua keluarga akan kumpul di ruang depan.”Kita akan berdoa,” ujarnya tersenyum.

Pengetahuan yang didapatkan Puji bukan dari sembarang sumber. Puji justru memperoleh semua informasi itu dari pelatihan dan seminar yang diadakah Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul, Forum Disabilitas Tangguh Bencana (FDTB), Pusat Pemberdayaan Disabilitas Mitra Sejahtera  (PPDMS) dan sejumlah LSM.

Tentu saja pengetahuan penting itu tidak disimpannya sendiri melainkan ditularkan kepada  anggota keluarga lain, masyarakat dan anggota  Mitra Ananda lainnya. Puji memang ketua Mitra Ananda, yaitu organisasi orang tua yang memiliki anak penyandang disabilitas.

Hingga saat ini mereka juga sudah mengetahui cara menyelamatkan diri saat terjadi bencana  termasuk menolong keluarga yang merupakan penyandang disabilitas lainnya, selain Putri.

Sayangnya ada kendala serius yang dihadapi oleh penyandang disabilitas dan keluarganya. Kendala itu tak lain dan tak bukan adalah infrastruktur mitigasi bencana saat ini belum ramah untuk penyandang disabilitas.

Pembangunan Belum Melibatkan Penyandang Disabilitas

Puji Lestari dan anggota Mitra Ananda memang mengeluh banyaknya infrastruktur mitigasi bencana yang belum “paham” keperluan penyandang disabilitas.

Puji mencontohkan papan petunjuk arah lokasi titik kumpul hanya berupa gambar tanda panah sehingga penyandang disabilitas netra susah untuk mengetahuinya. Contoh lain yang tidak kalah mengenaskannya adalah lokasi titik kumpul biasanya  di balai dusun.

Padahal banyak balai dusun yang sulit diakses penyandang disabilitas karena masih ada anak tangga di pintu masuk plus toiletnya sempit.

“Ini disebabkan otoritas belum paham kebutuhan- kebutuhan penyandang disabilitas serta ditambah  tidak melibatkan penyandang disabilitas dalam musyawarah perencanaan pembangunan,” kata Puji.

Akibatnya penyandang disabilitas pun hanya pasrah menerima saja.

“Kita berharap penyandang disabilitas  atau perwakilan keluarga dilibatkan di kegiatan-kegiatan  dusun atau desa sehingga pemerintah desa bisa menampung aspirasi. Sehingga dengan hal tersebut penyandang disabilitas akan lebih mandiri dalam aktivitas sehari – hari dan Tangguh dalam menghadapi bencana,” kata Puji.

Hal senada juga disampaikan Hardiyo selaku ketua FDTB. Menurut Hardiyo infrastruktur mitigasi bencana di Gunungkidul saat ini belum aksesibel bagi penyandang disabilitas  karena mindset otoritas.

“Ada anggapan sesuatu yang aksesibel itu mahal dan hanya untuk para disabilitas padahal sebenarnya jika  infrastruktur ini  aksesibel bisa digunakan oleh siapa saja,” kata Hardiyo.

 Sementara Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Agus Wibawa Arifianto Agus Wibawa mengatakan infrastruktur ramah disabilitas sudah diterapkan di beberapa bangunan baru di Gunungkidul.

“Yang belum itu gedung lama. Ada beberapa faktor penyebabnya diantaranya saat pembangunan gedung lama jelas belum ada payung hukum atau pedoman pelaksanaannya soal pembangunan infrastruktur yang ramah disabilitas,” kata Agus Wibawa.

Dia berharap FDTB atau lembaga serta aktivis disabilitas bisa membantu melakukan sosialisasi jika ada kebijakan-kebijakan baru terkait aksesibilitas dan hak-hak penyandang disabilitas. “Hal ini bisa disosialiasikan kepada mereka yang mempunyai wewenang dalam pembangunan maupun masyarakat,” kata Agus

Belajar Kebencanaan dari Gunungkidul

Senin 9 Agustus 2021

Disabilitas Tangguh Bencana, Kenapa Tidak?

Yanti Rahayu, 35 tahun, masih ingat ketika gempa bumi menguncang Daerah Istimewa Yogyakarta, pada pagi tanggal 27 Mei 2006 silam. ­

Saat itu Yanti dan kedua orang tuanya sedang mempersiapkan diri untuk ke ladang miliknya yang berlokasi di Gunungkidul, beberapa kilometer dari pusat gempa di kawasan Bantul.

“Tiba- tiba rumah bergoyang dan ada suara gludug-gludug dari goyangan rumah disertai disertai teriakan tetangga yang bilang gempa…” kenang Yanti baru-baru ini.

Yanti yang mengalami disabilitas intelektual ini sempat terdiam karena rasa kaget luar biasa. Untungnya orang tuanya segera mengajak dia keluar rumah dan berkumpul di depan rumah bersama anggota keluarga yang lain.

Selang setelah gempa besar itu, Yogya dan sekitarnya juga digoncang gempa susulan yang terjadi lebih dari sekali. Kondisi itu membuat warga menjadi was-was.

“Rencana untuk pergi ke ladang pun dibatalkan. Saya dan keluarga tidak berani masuk rumah hingga sore, padahal sudah lapar,” kata Yanti.

Menurut Yanti, saat sore hari almarhum ayahnya masuk untuk mengecek kondisi rumah. Meskipun gempa cukup parah ternyata rumah hanya mengalami sedikit retak-retak di tembok namun masih dianggap aman.

“Setelah kondisi dipastikan aman ibu saya masuk ke dapur untuk masak. Namun setelah masakan matang kami pun makan di luar rumah karena takut ada gempa susulan,” cerita Yanti.

Selain rumah retak-retak, gempa juga menyebabkan listrik padam. Yanti mengatakan suasana tanpa listik itu membuat kepanikan di antara masyarakat. Yang pasti malam itu semua orang tidur di luar rumah hingga beberapa hari.

“Warga takut ada gempa lagi,” kata Yanti.

Nurjanah Tri Oktaviani penyandang disabilitas tuli dari Gunungkidul juga mengalami pengalaman yang nyaris sama dengan Yanti. Saat gempa dasyat 2006 silam ia baru berusia 11 tahun.

Nurjanah saat itu masih tidur. Ayahnya sigap membangunkan dan Nurjanah digendong untuk menyelamatkan diri keluar rumah.

Seperti penduduk Gunungkidul lainnya, Nurjanah dan keluarga juga sempat tidur di luar rumah selama beberapa hari karena takut ada gempa susulan yang lebih berat lagi.

Gempa berkekuatan Magnitudo 5.9 itu memang sangat menghancurkan sepanjang sejarah Yogyakarta. Gempa tersebut memporakporandakan daerah Yogya dan Jawa Tengah.

Gempa menyebabkan 6.234 orang meninggal dunia dan 26.299 mengalami luka berat dan ringan. Sementara 71.763 rumah rusak total, 71.372 rumah rusak berat dan sebanyak 66.359 rumah rusak ringan.

Gunungkidul termasuk salah satu kabupaten yang sempat terimbas gempa Yogya yang dasyat itu. Kenyataannya Gunungkidul justru sudah lama dijuluki sebagai mall bencana karena banyaknya potensi bencana yang mengancam.

Menurut Forum Pengurangan Risiko Bencana Gunungkidul, kawasan ini rentan mengalami gempa bumi, banjir, kekeringan, kebakaran hutan, tanah longsor, angin puting beliung.

Data yang dikeluarkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di Kabupaten Gunungkidul merinci bahwa Gunungkidul sepanjang Juni 2021 saja sudah mengalami berbagai ragam bencana, misalnya : gempa bumi (15 kali), kebakaran (2 kali), angin kencang (1 kali) .

Sementara kekeringan juga sudah melanda di 306 dusun kabupaten tersebut.

Kerawanan bencana di tempat itu sudah pasti mengancam jiwa penduduknya. Suka tidak suka, siap tidak siap, semua orang harus tanggap menghadapi bencana. Hal ini juga berlaku untuk penyandang disabilitas yang dianggap kelompok paling rentan dalam hal menghadapi bencana.

Berdasarkan data peserta jamkesus (jaminan Kesehatan khusus) jumlah penyandang disabilitas di Gununungkidul pada 2018 ada 8654 orang.

Penyandang disabilitas memang harus dilatih sehingga mereka akan selalu siaga menghadapi bencana dan mampu mandiri menyelamatkan diri sendiri saat bencana datang. Kebetulan Gunungkidul salah satu kabupaten di Indonesia yang cukup paham soal ini.

Pengetahuan Kebencanaan untuk Penyandang Disabilitas

pelatihan  prosedur keselamatan diri saat terjadi bencana.

Yanti pernah mendapat undangan untuk mengikuti pelatihan prosedur keselamatan diri dari Perkumpulan Paluma  nusantara  (Perempuan , Anak , lingkungan , Usaha Mikro, Agribisnis)  pada 2018 silam.

Sayangnya Yanti tidak hadir saat itu. Keluarga Yanti khawatir anaknya tidak mampu memahami pelatihan tersebut sehingga Yanti akhirnya diwakili oleh ibunya.  Sang ibu kemudian mengajarkan Yanti ilmu yang didapatnya secara pelan-pelan.

Berbeda dengan Yanti, Nurjanah justru belum pernah mendapatkan pengetahuan kebencanaan.  Pelatihan untuk kebencanaan ini justru banyak dihadiri sang ayah.

Nurjanah menduga  susahnya mendapatkan  penerjemah bahasa isyarat di Gunungkidul menyebabkan dirinya jarang diundang. Pihak penyelenggara lebih memilih mengundang ayahnya  untuk mengikuti pelatihan tersebut dengan harapan sang ayah mengajarkan ilmu yang didapat kepada dirinya.

Pelibatan penyandang disabilitas dalam mitigasi bencana di Gunungkidul ini termasuk salah satu langkah maju.  Terlepas masih belum sempurna seperti pelatihan yang diwakili keluarga, alih-alih langsung sasaran yang benar-benar mengalami disabilitas. Namun Gunungkidul boleh berbangga hati karena merupakan salah satu daerah yang sudah melakukan kegiatan ini.

Kegiatan bermula tahun 2018  dengan adanya kolaborasi maut BPBD Gunungkidul  dan Pusat Pemberdayaan Disabilitas Mitra Sejahtera  (PPDMS). Dua Lembaga ini pencetus kelahiran forum penyandang  disabilitas untuk mitigasi kebencanaan yang kemudian kondang dengan nama Forum Disabilitas Tangguh Bencana (FDTB).

Forum ini akan memfasilitasi para penyandang disabilitas  dan keluarga  serta  kelompok rentan lainnya  dalam mendapatkan pengetahuan dan kesadaran tentang kebencanaan, termasuk meningkatkan kapasitas penyandang disabilitas dalam menghadapi bencana dan meningkatkan kesadaran kepada semua pihak terhadap  para disabilitas dalam hal pengurangan risiko bencana.

Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Agus Wibawa Arifianto mengatakan lembaganya telah melakukan beberapa hal yang dianggap penting untuk penyandang disabilitas termasuk cara penyelamatkan diri.

“Kami memberitahukan cara menyelamatkan diri saat terjadi bencana dan memberitahukan tanda- tanda bencana non gempa,” kata Agus.

Sementara menurut ketua FDTB Hardiyo, forum ini sudah beberapa kali melakukan simulasi  menghadapi bencana untuk penyandang disabilitas dan keluarganya. Selain itu juga ada peningkatan kesadaran mitigasi bencana seperti penanaman pohon, membersihkan sumber air yang menjadi strategi preventif pencegahan bencana.

Hardiyo mengakui banyak kendala untuk mewujudkan disabilitas Gunungkidul yang tanggap bencana, salah satunya adalah masalah infrastruktur yang belum “ramah” dengan penyandang disabilitas.

“Medan di Gunungkidul masih sulit dijangkau orang dengan disabilitas. Jalannya naik turun dan  ada yang masih tanah  serta sempit susah dilalui kendaraan roda tiga,” kata Hardiyo baru-baru ini.

Masalah lain adalah forum ini belum memiliki penerjemah bahasa isyarat sehingga kesulitan jika berkomunikasi dengan rekan tuli.

“Anggaran kegiatan juga masih belum tetap,” ujar Hardiyo.

Meskipun masih banyak tantangan yang dihadapi penyandang disabilitas di Gunungkidul, Hardiyo tetap bersemangat, termasuk harapan agar pemerintah selalu

melibatkan penyandang disabilitas dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi tentang kebencanaan.

“Kolaborasi antara penyandang disabilitas dan non-disabilitas sangat penting, terutama dalam menghadapi bencana,” pungkas Hardiyo.