Belajar Kebencanaan dari Gunungkidul

Senin 9 Agustus 2021

Disabilitas Tangguh Bencana, Kenapa Tidak?

Yanti Rahayu, 35 tahun, masih ingat ketika gempa bumi menguncang Daerah Istimewa Yogyakarta, pada pagi tanggal 27 Mei 2006 silam. ­

Saat itu Yanti dan kedua orang tuanya sedang mempersiapkan diri untuk ke ladang miliknya yang berlokasi di Gunungkidul, beberapa kilometer dari pusat gempa di kawasan Bantul.

“Tiba- tiba rumah bergoyang dan ada suara gludug-gludug dari goyangan rumah disertai disertai teriakan tetangga yang bilang gempa…” kenang Yanti baru-baru ini.

Yanti yang mengalami disabilitas intelektual ini sempat terdiam karena rasa kaget luar biasa. Untungnya orang tuanya segera mengajak dia keluar rumah dan berkumpul di depan rumah bersama anggota keluarga yang lain.

Selang setelah gempa besar itu, Yogya dan sekitarnya juga digoncang gempa susulan yang terjadi lebih dari sekali. Kondisi itu membuat warga menjadi was-was.

“Rencana untuk pergi ke ladang pun dibatalkan. Saya dan keluarga tidak berani masuk rumah hingga sore, padahal sudah lapar,” kata Yanti.

Menurut Yanti, saat sore hari almarhum ayahnya masuk untuk mengecek kondisi rumah. Meskipun gempa cukup parah ternyata rumah hanya mengalami sedikit retak-retak di tembok namun masih dianggap aman.

“Setelah kondisi dipastikan aman ibu saya masuk ke dapur untuk masak. Namun setelah masakan matang kami pun makan di luar rumah karena takut ada gempa susulan,” cerita Yanti.

Selain rumah retak-retak, gempa juga menyebabkan listrik padam. Yanti mengatakan suasana tanpa listik itu membuat kepanikan di antara masyarakat. Yang pasti malam itu semua orang tidur di luar rumah hingga beberapa hari.

“Warga takut ada gempa lagi,” kata Yanti.

Nurjanah Tri Oktaviani penyandang disabilitas tuli dari Gunungkidul juga mengalami pengalaman yang nyaris sama dengan Yanti. Saat gempa dasyat 2006 silam ia baru berusia 11 tahun.

Nurjanah saat itu masih tidur. Ayahnya sigap membangunkan dan Nurjanah digendong untuk menyelamatkan diri keluar rumah.

Seperti penduduk Gunungkidul lainnya, Nurjanah dan keluarga juga sempat tidur di luar rumah selama beberapa hari karena takut ada gempa susulan yang lebih berat lagi.

Gempa berkekuatan Magnitudo 5.9 itu memang sangat menghancurkan sepanjang sejarah Yogyakarta. Gempa tersebut memporakporandakan daerah Yogya dan Jawa Tengah.

Gempa menyebabkan 6.234 orang meninggal dunia dan 26.299 mengalami luka berat dan ringan. Sementara 71.763 rumah rusak total, 71.372 rumah rusak berat dan sebanyak 66.359 rumah rusak ringan.

Gunungkidul termasuk salah satu kabupaten yang sempat terimbas gempa Yogya yang dasyat itu. Kenyataannya Gunungkidul justru sudah lama dijuluki sebagai mall bencana karena banyaknya potensi bencana yang mengancam.

Menurut Forum Pengurangan Risiko Bencana Gunungkidul, kawasan ini rentan mengalami gempa bumi, banjir, kekeringan, kebakaran hutan, tanah longsor, angin puting beliung.

Data yang dikeluarkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di Kabupaten Gunungkidul merinci bahwa Gunungkidul sepanjang Juni 2021 saja sudah mengalami berbagai ragam bencana, misalnya : gempa bumi (15 kali), kebakaran (2 kali), angin kencang (1 kali) .

Sementara kekeringan juga sudah melanda di 306 dusun kabupaten tersebut.

Kerawanan bencana di tempat itu sudah pasti mengancam jiwa penduduknya. Suka tidak suka, siap tidak siap, semua orang harus tanggap menghadapi bencana. Hal ini juga berlaku untuk penyandang disabilitas yang dianggap kelompok paling rentan dalam hal menghadapi bencana.

Berdasarkan data peserta jamkesus (jaminan Kesehatan khusus) jumlah penyandang disabilitas di Gununungkidul pada 2018 ada 8654 orang.

Penyandang disabilitas memang harus dilatih sehingga mereka akan selalu siaga menghadapi bencana dan mampu mandiri menyelamatkan diri sendiri saat bencana datang. Kebetulan Gunungkidul salah satu kabupaten di Indonesia yang cukup paham soal ini.

Pengetahuan Kebencanaan untuk Penyandang Disabilitas

pelatihan  prosedur keselamatan diri saat terjadi bencana.

Yanti pernah mendapat undangan untuk mengikuti pelatihan prosedur keselamatan diri dari Perkumpulan Paluma  nusantara  (Perempuan , Anak , lingkungan , Usaha Mikro, Agribisnis)  pada 2018 silam.

Sayangnya Yanti tidak hadir saat itu. Keluarga Yanti khawatir anaknya tidak mampu memahami pelatihan tersebut sehingga Yanti akhirnya diwakili oleh ibunya.  Sang ibu kemudian mengajarkan Yanti ilmu yang didapatnya secara pelan-pelan.

Berbeda dengan Yanti, Nurjanah justru belum pernah mendapatkan pengetahuan kebencanaan.  Pelatihan untuk kebencanaan ini justru banyak dihadiri sang ayah.

Nurjanah menduga  susahnya mendapatkan  penerjemah bahasa isyarat di Gunungkidul menyebabkan dirinya jarang diundang. Pihak penyelenggara lebih memilih mengundang ayahnya  untuk mengikuti pelatihan tersebut dengan harapan sang ayah mengajarkan ilmu yang didapat kepada dirinya.

Pelibatan penyandang disabilitas dalam mitigasi bencana di Gunungkidul ini termasuk salah satu langkah maju.  Terlepas masih belum sempurna seperti pelatihan yang diwakili keluarga, alih-alih langsung sasaran yang benar-benar mengalami disabilitas. Namun Gunungkidul boleh berbangga hati karena merupakan salah satu daerah yang sudah melakukan kegiatan ini.

Kegiatan bermula tahun 2018  dengan adanya kolaborasi maut BPBD Gunungkidul  dan Pusat Pemberdayaan Disabilitas Mitra Sejahtera  (PPDMS). Dua Lembaga ini pencetus kelahiran forum penyandang  disabilitas untuk mitigasi kebencanaan yang kemudian kondang dengan nama Forum Disabilitas Tangguh Bencana (FDTB).

Forum ini akan memfasilitasi para penyandang disabilitas  dan keluarga  serta  kelompok rentan lainnya  dalam mendapatkan pengetahuan dan kesadaran tentang kebencanaan, termasuk meningkatkan kapasitas penyandang disabilitas dalam menghadapi bencana dan meningkatkan kesadaran kepada semua pihak terhadap  para disabilitas dalam hal pengurangan risiko bencana.

Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Agus Wibawa Arifianto mengatakan lembaganya telah melakukan beberapa hal yang dianggap penting untuk penyandang disabilitas termasuk cara penyelamatkan diri.

“Kami memberitahukan cara menyelamatkan diri saat terjadi bencana dan memberitahukan tanda- tanda bencana non gempa,” kata Agus.

Sementara menurut ketua FDTB Hardiyo, forum ini sudah beberapa kali melakukan simulasi  menghadapi bencana untuk penyandang disabilitas dan keluarganya. Selain itu juga ada peningkatan kesadaran mitigasi bencana seperti penanaman pohon, membersihkan sumber air yang menjadi strategi preventif pencegahan bencana.

Hardiyo mengakui banyak kendala untuk mewujudkan disabilitas Gunungkidul yang tanggap bencana, salah satunya adalah masalah infrastruktur yang belum “ramah” dengan penyandang disabilitas.

“Medan di Gunungkidul masih sulit dijangkau orang dengan disabilitas. Jalannya naik turun dan  ada yang masih tanah  serta sempit susah dilalui kendaraan roda tiga,” kata Hardiyo baru-baru ini.

Masalah lain adalah forum ini belum memiliki penerjemah bahasa isyarat sehingga kesulitan jika berkomunikasi dengan rekan tuli.

“Anggaran kegiatan juga masih belum tetap,” ujar Hardiyo.

Meskipun masih banyak tantangan yang dihadapi penyandang disabilitas di Gunungkidul, Hardiyo tetap bersemangat, termasuk harapan agar pemerintah selalu

melibatkan penyandang disabilitas dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi tentang kebencanaan.

“Kolaborasi antara penyandang disabilitas dan non-disabilitas sangat penting, terutama dalam menghadapi bencana,” pungkas Hardiyo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *